Sesungguhnya manusia
ialah makhluk yang hina. Ia diciptakan dari sesuatu yang hina. Sesuatu yang
menjijikan. Sesuatu yang setiap hari diinjak-injak. Sesuatu yang berlumpur,
lembek dan berbau. Jika kepanasan sedikitpun akan memerah dan mengering. Jika kedinginan
maka ia akan pucat dan membeku. Itulah manusia yang diciptakan dari berbagai
macam warna tanah. Sehingga ada bermacam-macam warna manusia di dunia ini. Ada
yang hitam, merah, kuning, putih, cokelat, dan sebagainya.
Namun dibalik kehinaan
manusia, ia diberi kemuliaan oleh Tuhan. Ia diciptakan tidak lain untuk menjadi
pemimpin di muka bumi. Ia diciptakan untuk memimpin penghuni dunia ini agar
damai, tentram, sejahtera, dan sentosa. Manusia diberi tiga potensi oleh Tuhan
untuk memimpin dunia ini. Yang pertama adalah akal. Akal manusia diciptakan oleh Tuhan agar digunakan
untuk memecahkan berbagai permasalahan yang ada di muka bumi agar bumi ini
tetap aman damai dan sejahtera. Akal manusia diciptakan oleh Tuhan agar
digunakan untuk berfikir apa yang harus dilakukan untuk menjaga bumi ini agar
tetap lestari. Dan menjaga penghuinya agar tetap rukun.
Potensi yang diberikan
oleh Tuhan pada manusia yang kedua adalah manusia diberi jasad. Jasad manusia
digunakan untuk merealisasikan apa yang ingin dilakukan oleh manusia itu
sendiir dalam rangka menjadi pemimpin di bumi ini. Karuni jasad yang diberikan
pada setap manusia itu berbeda-beda. Ada yang utuh dan berfungsi secara
sempurna misalkan saja mata tidak berfungsi untuk melihat, telinga tidak
berfungsi untuk mendengar dan sebagainya. Namun ada pula yang diberi utuh
tetapi tidak sepenuhnya berfungsi. Selain itu ada pula yang diberi tidak utuh,
misalkan saja tidak punya tangan, tidak punya kaki.
Akan tetapi di balik
kekurangan dan kelebihan yng dimiliki oleh setiap manusia sudah diciptakan dan
diberikan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya. Itulah pembeia yang sebaik-baiknya
dari Tuhan. Manusia tinggal menggunakannya secara optimal agar bisa
menghasilkan suatu karya yang bermanfaat bagi kehidupannya. Sehingga dapat
digunakan untuk memecahkan berbgai permasalahan yang dihadapinya. Tujuannya
hanyalah satu yakni menjaga bumi, karena ialah yang menjadi pemimpin di bumi.
Potensi yang terakhir
atau yang ke tiga adalah manusia diberikan hati oleh Tuhan. Hati manusia bersifat
lembut sehingga mampu measakan hal teramat sangat lembutnya. Namun jika ia
tergores sesuatu yang kasar, maka ia akan mudah merasakan sakit dan perih. Ironisnya
lagi tak mudah untuk mengembalikan hati yang terluka itu e keadaan yang semula.
Hati manusia bersifat besih, sehingga ia hanya akan menerima yang bersih-bersih
saja. Jikapun dia dijejali dengan sesuatu yang kotor, maka ia akan ternodai dan
tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Oya, hati yng ada pada
manusia berfungsi untuk membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk. Hati
yang lembut nan bersih tadi akan dengan sangat mudah membedakan antara yang
baik dan yang buruk. Sehingga dengan adanya hati tersebut manusia bisa memilih
mana yang akan diambil, apakah sesuatu yang baik, ataukah sesuatu yang buruk. Dan
hati itu bisa menemukan apa yang akan diperoleh dari hal yang baik iu dan apa
yang akan diperoleh dari hal yang buruk itu.
Nah, dari tiga potensi
itulah manusia dipilih oleh Tuhan sebagai pemimpin di muka bumi ini. Dengan begitu
manusia akan dengan sangat mudah memimpin seluruh penghuni yang ada di muka
bumi ini. Tuuhan telah menawarkan amanah seorang pemimpin bumi kepada langit,
namun langitpun tak mau, bumipun enggan, pohonpun menolak, dan gunungpun tak
sanggup. Namun manusia dengan mudahnya menerima amanah ini, dengan
memaksimalkan tiga potensi tersebut.
Dan akhirnya, manusia
itu sejatinya adalah kita. Kaum pemikir dan kaum intelektual. Kaum pekerja dan
kaum beragama. Kaum yang bernurani. Kaum yang bertaqwa. Kaum yang mandiri dan
kaum yang cendekia. Kitalah pemimpin itu saudaaku. Kitalah pemimpin itu. Sadarkah
kalian wahai saudaaku. Sudahkah kalian memaksimalakan tiga potensi yang sudah
dikaruniakan Tuhan kepadamu. Sudahkah kau menjalankan amanahmu sebagai pemimpin
di muka bumi ini? Sudahkah saudaraku? Aku tak inin mendengar kata belum wahai
saudaraku. Aku tak inin mendengar kata belum terucap dari bibirmu. Aku tak
ingin melihat bibirmu bergerak mengucapkan kata belum saudaraku. Lalu kapan kau
akan lakukan itu? Lalu kapan kau akan memaksimalkan ktiga potensimu itu?
Sadarkah kalian wahai
saudaraku, bumi dan seluruh isinya menunggu tindakanmu. Tindakanmu yang
melindungi bumi ini, bukan tindakanmu yang merusak bumi ini. Bukan tindakanmu
yang menebng pohon, tetapi tindakanmu yang menanam pohon. Bukan tindakanmu yang
mebuang sampah sembarangan, namun tindakanmu yang membersihkan sampah yang
berserakan. Bukan tindakanmu yang mengeksploitasi batu bara tanpa tanggung
jawab, namun tindakanmu yang menjaga bumi ini tetap seimbang.
#SalamPemimpinBumi
~Om Rohmah~
Al Khonsa, 5
Maret 2015
16:15 pm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar